Wednesday, 16 June 2010

Satu hari yang panjang *story part 3

Ada apa mbok?!” Tanya Nirza kaget

Sesosok Anjum ada didepan kamar Nirza.

Anjum adalah kakak sepupu Nirza yang paling disayang, yang bias tiba tiba muncul dating ke hadapan Nirza.

“aaaaanjuuuuum!!!!” teriak Nirza kesal

Anjum hanya tersenyum licik sambil membawa Taro, kucing kesayangannya. Lalu membersihkan pecahan gelas yang sudah ia jatuhkan.

“Makan dulu gih, belom makan kan? Kasihan tu Mbok pah sudah masak.” Kata Anjum sambil sibuk membersihkan pecahan gelas itu.

“Bosan ya dirumah?” tanya Anjum lagi

Nirza tidak menjawab, ia berjalan ke meja makan, dan mengambil nasi yang sudah disediakan oleh Mbok Pah.

“Mbok, keluar sebentar sama Nirza ya..” Tanya Anjum pada Mbok pah

“eh tapi mas!” sebelum Mbok pah selesai berbicara Anjum menarik Nirza dari kursi makan.

Mbok Pah cemas, ia teringat pesan Bu Mariam kalau Nirza tidak boleh keluar rumah hari ini, karena dari kemarin Bu Mariam punya perasaan tidak enak terhadap anaknya. Lalu Mbok Pah pun menelpon Bu Mariam.

Saat ditelpon, Bu Mariam sangat marah. Dan bergegas untuk pulang kerumah.

Tiba tiba telpon rumah berdering,

“halo assalammualaikum” Mbok Pah mengangkat telponnya.

Dan Mbok Pah menangis. Telpon dari karyawan Bu Mariam, memberi kabar bahwa Bu Mariam kena serangan Jantung yang menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri.

Beberapa jam kemudian, rumah Nirza ramai dipenuhi tetangga dan sanak saudara. Saat itu pukul 16.00, Nirza sampai dirumah dengan penuh rasa penasaran, Nirza masuk kerumah. Anjum menemui Tante Santy yang sedang duduk terdiam dikursi teras, matanya merah.

“Tante, tante Mariam kenapa?” Tanya Anjum

Lalu Tante Santy menceritakan pada Anjum yang sebenarnya.

“Tante Mariam meniggal dirumah sakit?” Anjum menangis, ia menyesal telah mengajak Nirza pergi hari ini.

Anjum tidak tahu bahwa ayah tiri Nirza sedang mencari Nirza sejak satu minggu ini, itu yang menyebabkan Nirza tidak boleh keluar rumah untuk beberapa hari, karena Bu Mariam takut Nirza dibawa pergi oleh orang itu. Selama satu bulan Bu Mariam diteror lewat telpon. Bu Mariam Cemas dengan keadaan anaknya. Itu yang selama ini membuat terjadi.

“mama ga pernah cerita!!” kata Nirza sdengan isakan tangisnya. Nirza menangis tidak percaya bahwa mamanya akan pergi secepat itu karena serangan jantung, semuanya sudah diceritakan oleh Anjum.

Nirza memeluk erat Mbok Pah, ia teringat tadi pagi masih dibangunin oleh mama, ia teringat tadi pagi masih dibuatkan sarapan oleh mama, dan ia teringat saat dikamar, hati kecilnya bilang nirza benci mama”.

Ingin semuanya diputar ulang, ingin semuanya bisa dirubah, tapi itu tidak akan.

Masih dipelukan Mbok Pah, Nirza teringat kata kata Mbok Pah “Kalau ga ada mama toh pasti nyesel, sebawel bawelnya mama tandanya sayang bangeeeet sama anaknya”

SELESAI

Satu hari yang panjang *story part 2

Pukul 10.00 pagi hari, Nirza merasa lapar, sarapan roti tadi pagi tidak ia makan. Nirza pun merasa bosan, lalu masuklah ia kekamar dan mengganti baju untuk pergi keluar.

Setelah rapih mengganti baju, lalu Nirza keluar dari kamarnya, dan Nirza mencium wangi mentega yang dipanaskan, lalu menengoklah ia kearah dapur dan melihat Mbok Pah yang sedang masak.

“Mau kemana dik? Kok sudah rapih?” Tanya mbok pah pada Nirza

“eeee, mau main mbok. Bosan dirumah. Masak apa mbok?” Nirza menengok kearah masakan mbok pah.

“roti goreng, enak lho dik. Makan saja dirumah, nanti mbok mau masak udang saus tiram ke sukaan adik. Oia, pesan mama adik tidak bolah keluar hari ini, harus bantuin mbok beres beres rumah” kata mbok pah tanpa berhenti berbicara

Rasa bosan Nirza semakin menjadi jadi, ia paling tidak suka kalau mamanya bersikap seperti itu. Nirza pun masuk kamar dan membanting pintu kamar tanpa menjawab kata kata mbok pah.

Sikap Nirza yang seperti itu sudah biasa dialami oleh mbok pah, jadi tidak heran kalau mbok Pah hanya diam saja.

Dikamar, Nirza menyalakan laptopnya, tapi ia bosan, bosan sekali.

“Selalu kaya gini, selalu sendiri, ga punya adik, ga punya kakak, ngerti ga sih mereka?? Gue bosan!! Gue benci mama yang maunya gue nurutin pa katanya, gue benci mama yang selalu mau benar sendiri” kata Nirza dalam hati

Nirza pun menangis sambil membalas pesan singkat dari teman yang sudah membuat janji dengannya. Laptop yang baru dinyalakan dimatikan kembali.

Tok…tok…tok….

Ketukan suara pintu kamar Nirza, tapi Nirza tidak membuka walaupun ia mendengar.

“Dik, makan. Udangnya sudah matang.” Suara mbok pah memanggil dari luar kamar. Nirza mengabaikan. Sampai akhirnya terdengar suara gelas pecah, Nirza terbangun dan keluar kamar melihat apa yang terjadi.

satu hari yang panjang *story part 1

Pagi itu pukul 07.00. Nirza masih tertidur dengan mimpi mimpinya. Sampai akhirnya terdengar suara teriakan dari luar kamar menuju kamarnya,

“Za! Mau tidur sampai kapan kamu??” suara mama sudah sangat jelas terdengar di telinga Nirza. Nirza mendengar, tapi tidak menjawab, bahkan Nirza tertidur lagi. Lalu mama masuk kamar, menarik selimut Nirza dan membuka jendela kamar. Nirza yang masih mengatuk membuka mata lalu bangun dari tidurnya, dan duduk ditempat tidur dengan mata yang masih mengantuk.

“Jam berapa sekarang? Mama mau ke kantor dulu!” kata mama dengan suara agak kesal.

“Ayoo bangun dong Nirza! Rapihin kamarnya! Nanti mama pulang ga ada yang berantakan gini yaaa”

Suara Mama tidak asing didengar oleh Mbok Pah, sedangkan Mbok Pah hanya terseyum saja melihat Nirza yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah.

Mbok Pah adalah pembantu yang sangat setia pada Bu Mariam, mama nirza. Sejak Nirza berusia 1 bulan, Mbok Pah sudah ada dirumah itu untuk membatu pekerjaan rumah tangga, tidak heran kalau Mbok Pah sangat sayang pada Nirza seperti anak sendiri.

Nirza bangun dari tempat tidurnya menuju meja makan.

“Mama aku hari ini libur, ga usah teriak teriak gitu banguninnya” suara Nirza masih terdengar lemas

“Iya mama tau, makanya itu kamu harus bangun pagi, biar bisa beres beres rumah bantuin Mbok Pah, jangan tidur mulu!” Jawab mama tanpa mendengar alasan lain dari Nirza

Mama pergi ke kantor dan meninggalkan Nirza bersama Mbok Pah.

“HOOOAM!” Nirza menguap lalu kembali tidur di sofa

“Dik, Bantu Mbok menyiram tanaman yuk! Daripada tidur mulu, nanti melar lho badannya” suara khas Mbok Pah yang sangat disukai Nirza, membuat Nirza semangat untuk bangun.

Nirza bangun dari sofa, lalu melemparkan senyum manisnya kepada Mbok Pah dan lari kearah wastafel untuk mencuci muka. Suara Mbok Pah sudah melupakan Nirza pada mimpi mimpinya.

Saat menyiram tanaman dipekarangan rumah, seperti biasa, mereka selalu membicarakan Mama.

“Nirza sebel deh Mbok! Kenapa sih selalu mama yang bangunin Nirza? Aturan Mbok Pah aja yang bangunin Nirza tiap pagi, kan jadi semangat kalau Mbok yang bangunin” keluh Nirza yang masih sebal karena omelan pagi pagi.

“Lho lho lho, si adik kok ngomongnya gitu, toh tiap pagi yang bangunin kan Ibu, kalau bukan Ibu, adik kan bangun sendiri, nanti marah marah kalau Mbok Pah yang bangunin diciprat air, nda mau kan?”

“ya tapi kan Nirza lebih semangat kalu Mbok yang bangunin Nirza, rasanya gimana gituuu”

“gimana gitu gimana toh dik? itu tuh mama mu. Kalau ga ada mama toh pasti nyesel, sebawel bawelnya mama tandanya sayang bangeeeet sama anaknya”

Nasihat singkat Mbok Pah selalu diingat Nirza, tapi tetap saja itu tidak merubah perasaannya yang masih kesal.

Nirza terdiam, lalu disemprotlah Nirza oleh Mbok Pah. Dalam beberapa menit, baju tidur Nirza basah, dan terpaksa Nirza harus mandi.