Pukul 10.00 pagi hari, Nirza merasa lapar, sarapan roti tadi pagi tidak ia makan. Nirza pun merasa bosan, lalu masuklah ia kekamar dan mengganti baju untuk pergi keluar.
Setelah rapih mengganti baju, lalu Nirza keluar dari kamarnya, dan Nirza mencium wangi mentega yang dipanaskan, lalu menengoklah ia kearah dapur dan melihat Mbok Pah yang sedang masak.
“Mau kemana dik? Kok sudah rapih?” Tanya mbok pah pada Nirza
“eeee, mau main mbok. Bosan dirumah. Masak apa mbok?” Nirza menengok kearah masakan mbok pah.
“roti goreng, enak lho dik. Makan saja dirumah, nanti mbok mau masak udang saus tiram ke sukaan adik. Oia, pesan mama adik tidak bolah keluar hari ini, harus bantuin mbok beres beres rumah” kata mbok pah tanpa berhenti berbicara
Rasa bosan Nirza semakin menjadi jadi, ia paling tidak suka kalau mamanya bersikap seperti itu. Nirza pun masuk kamar dan membanting pintu kamar tanpa menjawab kata kata mbok pah.
Sikap Nirza yang seperti itu sudah biasa dialami oleh mbok pah, jadi tidak heran kalau mbok Pah hanya diam saja.
Dikamar, Nirza menyalakan laptopnya, tapi ia bosan, bosan sekali.
“Selalu kaya gini, selalu sendiri, ga punya adik, ga punya kakak, ngerti ga sih mereka?? Gue bosan!! Gue benci mama yang maunya gue nurutin pa katanya, gue benci mama yang selalu mau benar sendiri” kata Nirza dalam hati
Nirza pun menangis sambil membalas pesan singkat dari teman yang sudah membuat janji dengannya. Laptop yang baru dinyalakan dimatikan kembali.
Tok…tok…tok….
Ketukan suara pintu kamar Nirza, tapi Nirza tidak membuka walaupun ia mendengar.
“Dik, makan. Udangnya sudah matang.” Suara mbok pah memanggil dari luar kamar. Nirza mengabaikan. Sampai akhirnya terdengar suara gelas pecah, Nirza terbangun dan keluar kamar melihat apa yang terjadi.
No comments:
Post a Comment