Aku mempunyai kekurangan, kekurangan itu yang menyebabkan kamu pergi meninggal kan aku. Setelah kamu meninggalkan aku, aku tetap dengan perasaan ku. Sikap mu dingin, cuek dan, acuh. Aku tak pedulikan itu.
Ada beberapa orang yang bilang kamu seperti ini, kamu seperti itu. Tapi aku tidak peduli, yang aku lihat dari kamu hanyalah apa yang aku rasakan di mata dan hati ku.
Aku menyayangi kekurangan dan kelebihan mu.
Aku menikmati kesendirian ku.
Aku menikmati rasa rindu yang hanya satu yang aku punya.
Aku bersikap seolah-olah hati ku biasa saja.
Ya, aku biasa saja. Berusaha untuk biasa saja.
Aku berusaha bersikap biasa saja pada mu. Tapi respon mu mengajak ku untuk bersikap dan mengambil tindakan lain tentang dirimu.
Ya hanya aku yang merasakan kekurangan dari dirimu.
Aku tidak dapat menceritakannya kepada siapapun, termasuk sahabat ku. Karena sikap mu ini membuatku mati rasa dan aku pun tidak bisa mendeskripsikannya.
Jauh didalam hati ku, aku sangat menyayangimu. Tapi sepintas melihat dirimu, aku sangat membenci mu.
Ada beberapa orang yang bilang kamu seperti ini, kamu seperti itu. Tapi aku tidak peduli, yang aku lihat dari kamu hanyalah apa yang aku rasakan di mata dan hati ku.
Aku menyayangi kekurangan dan kelebihan mu.
Aku menikmati kesendirian ku.
Aku menikmati rasa rindu yang hanya satu yang aku punya.
Aku bersikap seolah-olah hati ku biasa saja.
Ya, aku biasa saja. Berusaha untuk biasa saja.
Aku berusaha bersikap biasa saja pada mu. Tapi respon mu mengajak ku untuk bersikap dan mengambil tindakan lain tentang dirimu.
Ya hanya aku yang merasakan kekurangan dari dirimu.
Aku tidak dapat menceritakannya kepada siapapun, termasuk sahabat ku. Karena sikap mu ini membuatku mati rasa dan aku pun tidak bisa mendeskripsikannya.
Jauh didalam hati ku, aku sangat menyayangimu. Tapi sepintas melihat dirimu, aku sangat membenci mu.